Refleksi Kehidupan

Tiga Macam Pendaki Gunung Tuhan

Teks: Mazmur 24:3-5

Didalam ayat bacaan menunjukkan adanya sebuah pertanyaan, tentang siapa yang boleh naik ke gunung Tuhan. Dan kita tahu bahwa di atas gunung Tuhan ada berkat dan keadilan dari Tuhan (ayat 5). Maka untuk bisa naik ke gunung Tuhan perlu adanya suatu target yaitu apabila bersih tangan kita dari tindakan yang jahat dan hati kita murni dihadapan Tuhan serta kita tidak menyerahkan diri kepada penipuan dan tidak bersumpah palsu (ayat 4).Ayat bacaan: Mazmur 24:3-5 ”Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempatNya yang kudus? . . . . . . . . . . .” Ada 3 golongan orang yang naik ke gunung Tuhan.
  • Quiters (Orang yang mengundurkan diri)
    Di dalam kekristenan banyak orang gagal mengiring Tuhan dan tidak bisa mendaki gunung Tuhan sampai pada puncak. Ada beberapa alasan mengapa orang itu tidak bisa mendaki ke gunung Tuhan atau berhenti di tengah jalan, diantaranya adalah : karena kecewa dengan orang yang ada di gereja atau kecewa dengan hamba Tuhan. Memang murid-murid Tuhan bisa mengecewakan, contohnya : ada seseorang yang mau datang kepada Yesus tetapi murid-murid Yesus justru berkata : “suruh pergi saja orang ini, Tuhan ! karena orang ini membuat repot Tuhan.”  Contoh lain yaitu : Karena belum mendapatkan jodoh, sehingga mereka mencari teman hidup tanpa melihat apakah pasangannya itu anak Tuhan atau tidak. Akhirnya ia harus terseret dengan kepercayaan mereka dan mulai meninggalkan Tuhan. Ada juga yang berhenti mengiring Tuhan karena ditawari sesuatu yang bersifat sementara dan berakhir dengan kebinasaan. Seperti kisah Tuhan Yesus saat Ia menyelesaikan puasaNya selama 40 hari. Dimana iblis mencobai Dia, dengan berkata : ”seluruh isi dunia dan keindahannya akan kuberikan kepadaMu asalkan Engkau menyembah aku (iblis)”, tetapi Tuhan Yesus berkata kepada iblis : “Ada tertulis : engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” Dengan tegas Tuhan Yesus menghardik tawaran iblis yang menyesatkan.

    Memang, kadang-kadang kita mendaki gunung Tuhan terasa berat, sehingga kita berpikir : “mengapa perjalanan hidup ini susah, apakah tidak ada jalan lain yang mudah untuk bisa mencapai sesuatu yang kita inginkan.” Sebenarnya jalan lain untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan memang banyak tetapi di dalamnya tidak ada berkat dan keadilan Tuhan. Banyak jalan yang disangka orang lurus tetapi ujungnya menuju maut. Mungkin saat ini kita menempuh jalan yang kelihatannya terus mendaki, tetapi janganlah putus asa karena saat kita sampai di puncak maka kita akan mendapatkan pelangi kasih Tuhan yang bersinar dalam kehidupan kita. Walaupun rasanya berat tetapi kita percaya bahwa yang kita alami saat ini tidak melebihi kekuatan kita. Dan kadang-kadang persoalan itu kelihatan besar yang disebabkan karena kita dekat persoalan itu sehingga kelihatanya besar, tetapi kalau kita dekat dengan Allah yang besar maka persoalan kita akan tampak kecil. Oleh sebab itu kita harus tetap melekat pada Tuhan supaya kita sanggup menghadapi segala persoalan.
  • Campers (Orang yang berkemah)
    Dalam Kekristenan kita tidak boleh puas dengan keberadaan kita saat ini. Misalnya, dalam level tertentu janganlah kita hanya puas sebagai jemaat saja, tetapi kita harus tetap belajar supaya ada pertumbuhan dan perkembangan dalam kerohanian kita. Kita dapat belajar baik lewat SOM maupun Family Altar supaya kita tidak berhenti pada zona aman saja, tetapi terus maju dan berkembang. Seringkali orang tidak mau melangkah dari zona aman. Pada perhatikan pada waktu murid Yesus naik perahu dan melihat Yesus berjalan di atas air, maka salah satu murid Yesus yang bernama Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air. Murid ini telah keluar dari zona aman sehingga mengalami mujizat, tetapi murid yang lain tidak. Demikian kita, apabila kita tetap tinggal di zona aman saja maka kita tidak mengalami mujizat, tetapi apabila kita tinggal di zona iman maka kita akan mengalami mujizat serta pertumbuhan dalam kerohanian kita.
  • Climbers (Seorang pendaki)
    Tuhan rindukan kita menjadi pendaki gunung Tuhan yang sejati. Dan sebagai pendaki yang sejati tidak akan pernah menyerah terhadap keadaan meskipun kelihatannya semakin lama tanjakannya semakin tinggi. Mungkin saat mendaki kita mengalami kegagalan, tetapi hal itu tidak boleh membuat kita berhenti, karena justru mengalami kegagalan kita akan terpacu untuk semakin giat lagi. Sebab kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Thomas Alfa Edison adalah pencipta lampu pijar telah mengalami banyak kegagalan tetapi dia tidak pernah menyerah akibat kegagalan yang ia alami. Justru ia semakin giat dalam melakukan penelitiannya sampai ia mengalami keberhasilan dan hasilnya dapat dinikmati oleh semua orang hingga saat ini. Oleh sebab itu janganlah kita kecil hati dan putus asa saat mendaki gunung Tuhan, tetapi biarlah kita semakin giat untuk melakukannya karena berkat dan keadilan Tuhan sedang menanti kita. Amin
“Tetapi orangKu yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.   . . . . . . . . . .” Ibrani 10: 38-39

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar